Biografi Legenda: Ryan Giggs Penyihir dari Wales (1)

banner mufc agustus1

BeritaMUFC.com   Tanggal 29 November 1972, seorang pemain Rugby, Danny Wilson tengah bahagia bersama istrinya, Lynne Giggs di rumah sakit  St David di Canton, Cardiff. Pasalnya, Lynne baru saja melahirkan anak pertama mereka yang diberi nama Ryan Joseph Wilson. Ketika itu tak akan ada yang menyangka bayi yang baru lahir itu akan menjadi tenar di dunia walau bukan dengan nama lahirnya.


PERHATIAN! Kami telah mendeteksi adanya pelanggaran pidana Hak Cipta berupa pemuatan artikel kami di situs lain tanpa penulisan sumber yang lengkap serta penerapan kaidah yang diperbolehkan secara hukum. Setiap pelanggaran akan kami tuntut sesuai UU No 28 Tahun 2014 Pasal 113 dengan tuntutan maksimal 10 tahun penjara dan/atau denda 4 miliar rupiah.  


Ryan bersama adiknya, Rhodri dibesarkan di Ely, pinggiran Cardiff Barat. Ketika itu mereka menghabiskan waktunya untuk bermain sepakbola dan rugby di depan rumah mereka. Danny Wilson dikenal sebagai pemain rugby yang memiliki kecepatan lari. Bakatnya itu rupanya menurun pada Ryan. Bedanya, tubuhnya lebih kecil sehingga dia lebih menyukai bermain sepak bola daripada rugby.

Pada tahun 1980, ketika Giggs berusia enam tahun, ayahnya pindah klub rugby ke Swinton RLFC. Tentu ini memaksa seluruh keluarga untuk pindah ke utara ke Swinton, sebuah kota di Salford, Manchester. Ryan sangat sedih dengan kepindahan ini. Dia sangat dekat dengan kakek-neneknya di Cardiff, walau ia akan sering kembali ke sana dengan keluarganya di akhir pekan atau pada hari libur sekolah. Namun justru kepindahan ini yang memulai perajalan hidupnya. Selama ini dia sering mendengar cerita kakeknya tentang pemain legenda Manchester United, George Best. Dia pun menonton aksi-aksi Best lewat video dan mengaguminya.

Kagum dengan Best, dia pun ingin mengikuti jejaknya dengan masuk ke klub sepak bola. Setelah pindah ke Salford, Ryan tampil untuk tim lokal, Dekan FC, yang dilatih oleh pemandu bakat Manchester City, Dennis Schofield. Schofield kemudian rekomendasikan Ryan ke Manchester City, dan ia mendaftarkannya ke sekolah mereka. Di sekolah dia menjadi murid kesayangan gurunya kecuali satu, yaitu guru matematika. Di pelajaran itu nilainya selalu jeblok.

“Mungkin karena dia tidak menyukai sepak bola sehingga tidak paham, waktuku banyak buat latihan sepak bola sehingga tak sempat belajar karena kelelahan” kata Ryan.

Ryan kemudian bermain untuk Salford Boys, yang kemudian mencapai final kompetisi Granada Schools Cup di Anfield pada tahun 1987. Ketika itu dia menjadi kapten tim Salford dan membawa kemenangan atas Blackburn. Dia terpilih sebagai man of the match, dan trofi itu disajikan kepadanya oleh kepala pemandu bakat Liverpool, Ron Yeats.

Saat bermain untuk Dekan, Ryan diamati secara teratur oleh agen koran lokal sekaligus pemandu bakat dari Old Trafford, Harold Wood. Wood kemudian berbicara secara pribadi kepada Alex Ferguson yang ketika itu baru menjabat dua bulan sebagai manajer Manchester United. Awalnya Ferguson tak begitu perduli, tapi mendengar Manchester City sudah menyiapkan kontrak untuk Ryan, Wood dengan nekat memaksa Fergie untuk melihatnya.

Ryan akhirnya dibawa untuk tes selama periode Natal 1986. Dia dimainkan dalam pertandingan untuk Salford Boys melawan tim MU U-15 di The Cliff dan mencetak hat-trick. Ferguson menonton dari jendela kantornya dan berkata dalam hati.

“Ya Tuhan, hampir saja kami menyia-nyiakan pemain berbakat”

Pada 29 November 1987 (ulang tahun ke-14), Ferguson tiba-tiba muncul di rumah Ryan dengan pemandu bakat Joe Brown dan menawarkan dua tahun bergabung dengan sekolah sepakbola MU. Mereka menawarkan beasiswa dan membujuk Ryan menandatangani kontrak dengan menawarkan kesempatan untuk menjadi profesional dalam jangka tiga tahun.

Ryan tentu tak menyia-nyiakannya. Ini semakin mendekati impiannya untuk mengikuti jejak George Best, pemain idolanya. Keputusan ini jelas membuat Manchester City dan Liverpool gigit jari mengingat mereka juga berencana mengajak Ryan bergabung. Di MU U-14 dia bertemu dengan rekan-rekan barunya seperti George Switzer, Mark Bosnich,

Cemerlang di tim U-14 dan U-15, Ryan kemudian menjadi kapten Inggris di tingkat sekolah, bermain di Stadion Wembley melawan Jerman pada tahun 1989. Tapi dalam rentang itu dia merasakan kesedihan mendalam. Kedua orang tuanya bercerai, membuat dirinya tak kuasa menahan sedih.

Akhirnya pengadilan memutuskan dia ikut dengan ibunya. Dia kemudian mengubah nama keluarganya dengan dengan nama ibunya pada usia 16, bertepatan ketika ibunya menikah lagi, dua tahun setelah perpisahan orang tuanya. Nama Ryan Wilson pun berubah menjadi nama Ryan Giggs. (Bersambung) (Uck)

Sumber gambar: www.gettyimages.com

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com