Biografi Legenda: Ryan Giggs Penyihir dari Wales (4)

BeritaMUFC.com   Musim 1992/1993 merupakan musim yang tak akan terlupakan oleh Ryan Giggs. Untuk pertama kalinya dia membawa Manchester United menjuarai Premier League, gelar yang sudah lama absen buat klub sejak 26 tahun lamanya.


PERHATIAN! Kami telah mendeteksi adanya pelanggaran pidana Hak Cipta berupa pemuatan artikel kami di situs lain tanpa penulisan sumber yang lengkap serta penerapan kaidah yang diperbolehkan secara hukum. Setiap pelanggaran akan kami tuntut sesuai UU No 28 Tahun 2014 Pasal 113 dengan tuntutan maksimal 10 tahun penjara dan/atau denda 4 miliar rupiah.


Di usianya yang masih muda, Giggs dipercaya kembali sebagai pemain utama musim 1992/1993. Walau ketika itu Lee Sharpe dan Andrei Kanchelskis juga fit, namun dia tetap menjadi pilihan utama Alex Ferguson. Momen tak terlupakan adalah ketika tanggal 19 September 1992 di mana dengan gol aksi solorun-nya dia melewati tiga pemain plus penjaga gawang Tottenham Hotspurs.

Giggs diakui sebagai salah satu dari dua sayap muda terbaik di sepak bola Inggris, bersama Steve McManaman dari Liverpool. Giggs membantu United meraih gelar kemenangan atas divisi pertama mereka selama 26 tahun. Ferguson terus melindunginya dengan menolak mengizinkan Giggs untuk diwawancarai sampai ia berusia 20 tahun.

Ferguson tak ingin dia melakukan kesalahan dengan membebaskan Lee Sharpe dari banyak acara di luar sepak bola. Akhirnya dia menyesalinya karena kehilangan sentuhan-sentuhan magis pemain muda tersebut. Kesalahan pada Lee Sharpe tak ingin diulangnya pada Giggs. Di usia Giggs yang masih di bawah 20 tahun adalah waktu di mana pemain harus fokus pada sepak bola dan mengembangkan diri, bukan untuk sibuk menjadi model atau bintang iklan apapun itu.

Hasilnya Giggs pun bisa fokus di permainannya dan berhasil membawa United menjuarai Premier League 1992/1993 dengan umpan maupun golnya. Dia pun mendapat gelar PFA Young Player of the Year awards untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Dia total bermain sebanyak 46 kali dan mencetak 11 gol.

Giggs menjadi ikon baru di sepakbola Inggris khususnya untuk anak-anak muda. David Beckham terus terang sangat mengagumi rekannya dan menjadikan Giggs sebagai panutan untuk ditiru.

“Melihat Ryan (Giggs), itu membuatku jadi termotivasi. Karena Manajer memberikan kepercayaan pada dia, bukan tidak mungkin giliran kami akan segera tiba” kata David Beckham.

Eric Cantona pun memuji Giggs sebagai pemain yang komplit. Dia sangat nyaman untuk bermain dengan anak muda yang penuh enerjik. Demikian pula dengan Mark Hughes yang membuat gol spektakuler ketika menghadapi Liverpool di Old Trafford. Dia justru menunjuk umpan Ryan Giggs yang bisa membuatnya mencetak gol penyelamat MU dari kekalahan yang hasil akhirnya imbang 2-2.

Popularitas Giggs bahkan membuat ‘ikon muda lama’ Lee Sharpe harus rela tersingkir dari para fansnya, namun dia tidak mempermasalahkan itu. “Giggs memang layak mendapatkannya” kata Sharpe tentang teman akrabnya itu.

Sebagai pemain termuda di tim utama, dia sering tidak lepas dari ulah iseng dan ‘gojlokan’ para seniornya. Peter Schmeichel pernah mengomelinya karena masalah bola yang dipompa dengan tidak benar. Paul Ince malah sering mengejek cara Giggs berpakaian

Giggs masa bodoh dengan popularitas. Fokusnya adalah pada Manchester United. Dia ingin membawa Manchester United meraih gelar demi gelar. Tahun 1993/1994 dia kembali membawa Manchester United menjuarai Premier League. Hebatnya lagi kali ini disandingkannya dengan Piala FA –juga Charity Shield.  Giggs juga masuk dalam dream team 1994 Manchester United.

Hanya di akhir musim itu dia harus kehilangan satu sosok panutan, Bryan Robson. Kapten Manchester United tersebut hijrah ke Middlesbrough sebagai manajer player. Giggs merasa dia masih belum puas untuk belajar dari pemain yang sudah memperkuat United selama 12 tahun tersebut.

Baginya Robson adalah kapten sejati Manchester United, tapi dia beruntung karena pemain-pemain senior seperti Mark Hughes, Steve Bruce, Gary Pallister, Paul Ince, dan terutama Eric Cantona masih bisa menularkan pengalaman mereka pada pemain muda walau gaya memimpin mereka tentu berbeda dengan Robson.

Sayangnya masih ada ganjalan buatnya. Dia gagal membawa Wales mengikuti Piala Dunia 1994 di USA. Ketika itu dia patah semangat karena tak bisa berbuat banyak untuk negaranya. Dia sendiri heran mengapa dia bisa membawa timnya berjaya, namun gagal membawa negaranya ke Piala Dunia. Namun oleh ibunya, kegalauannya terobati. Dia disarankan sebaiknya fokus pada klub, dan kesempatan akan datang suatu saat nanti untuk bermain di Piala Dunia.

Di Piala Dunia 1994, dia memang tetap berangkat ke USA, namun hanya sebagai bintang iklan untuk mempromosikan sepak bola di negara paman Sam yang ketika itu sepak bola tidak begitu populer. (Uck)

(Bersambung)

Sumber gambar: www.dailymail.co.uk

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com