Biografi Legenda: Ryan Giggs Penyihir dari Wales (6)

iklan mufc agustus3

BeritaMUFC.com  Ryan Giggs memang masih menjadi pemain kunci United, namun namanya kalah tenar dengan rekannya yang tengah naik daun, David Beckham di musim 1996/1997. Apalagi ketika itu Alex Ferguson mendatangkan Jordi Cruyff dan Karel Poborsky ke United. Posisinya pun diprediksi tergusur.


PERHATIAN! Kami telah mendeteksi adanya pelanggaran pidana Hak Cipta berupa pemuatan artikel kami di situs lain tanpa penulisan sumber yang lengkap serta penerapan kaidah yang diperbolehkan secara hukum. Setiap pelanggaran akan kami tuntut sesuai UU No 28 Tahun 2014 Pasal 113 dengan tuntutan maksimal 10 tahun penjara dan/atau denda 4 miliar rupiah.  


Namun Giggs tak perlu cemas. Nyatanya Alex Ferguson masih percaya padanya. Walau secara keseluruhan dia banyak absen di musim itu, bukan karena penampilannya yang buruk atau kalah bersaing, melainkan karena cedera. Musim tersebut United memang baru mulai serius di ajang Liga Champions, tapi Giggs berhasil membawa United lolos ke babak perempatfinal walau dua kali kalah menghadapi Juventus. Bahkan dia mendapatkan pujian dari bintang Juventus ketika itu, Zinedine Zidane dan Alesandro Del Piero.

Giggs juga mengaku penampilan terbaiknya adalah ketika menghadapii FC Porto di perempatfinal. Bermain di Old Trafford, United menang 4-0 dan salah satu golnya dicetak oleh Ryan Giggs. Sayangnya ketika menghadapi Borussia Dortmund di semifinal, Giggs mengalami cedera. Dia harus absen ketika United kalah 0-1 di Jerman. Di Old Trafford dia pun main sebagai pengganti namun belum bisa bermain maksimal karena sebenarnya cederanya belum sepenuhnya pulih. United pun tersingkir di Liga Champions.

Walau gagal di Liga Champions, Giggs berhasil meraih Premier League ke-4 bersama United. Hanya saja setelah musim itu selesai, Eric Cantona mengundurkan diri. Itu membuat Giggs kembali sedih. Sebelumnya rekan karibnya Lee Sharpe juga hengkang walau itu tak mengurangi kekuatan United. Musim 1997/1998 tanpa Eric Cantona, peran Giggs justru lebih berfungsi. Dia dan Andy Cole diberikan pesan khusus dari Ferguson untuk menambah speednya.

Cederanya Roy Keane membuat Giggs menjadi tulang punggung United di musim itu bersama Paul Scholes dan David Beckham. Penampilan cemerlang Giggs membuat Juventus kalang kabut di Old Trafford dan menyerah 3-2, salah satu gol dicetak Giggs dengan aksi individu yang luar biasa. United pun lolos dengan meyakinkan di fase grup. Di Premier League Giggs juga bermain cemerlang dan membuat United melenggang di atas hingga bulan Januari 1998.

Namun perjalanan United akhirnya terhambat setelah cedera hamstring-nya kambuh ketika menghadapi Derby County. Padahal ketika itu United juga tengah bersiap menghadapi AS Monaco di perempat final Liga Champions. Absennya Giggs membuat United tak berdaya. Posisi sayap kiri benar-benar hilang ketika itu. Ole Gunnar Solskjaer memang ditempatkan di sana, namun tak sebaik ketika Giggs berada di sayap kiri. United disingkirkan AS Monaco di Liga Champions, dan di Premier League, mereka akhirnya diruntuhkan oleh Arsenal yang sebelumya tertinggal jauh. Akhirnya United tak memperoleh gelar apapun di musim itu.

Kelemahan United di musim 1997/1998 adalah tak adanya pelapis yang sepadan dengan Ryan Giggs. Itu yang membuat Alex Ferguson merekrut Jesper Blomqvist. Apakah posisi Giggs tersingkir? Tidak, awalnya Ferguson ingin memasang Giggs di depan bertandem dengan Dwight Yorke, namun duet Yorke-Cole ternyata lebih kompak membuat Ferguson kembali memasang Giggs di sayap kiri bergantian dengan Blomqvist. Giggs pun bisa fit menghadapi partai-partai penting baik di Premier League, FA Cup, maupun Liga Champions.

Di liga mereka bersaing ketat dengan Arsenal, di Piala FA pun mereka melaju ke perempat final. Di Liga Champions mereka berada di grup neraka, namun mereka berhasil menyisihkan Barcelona dan lolos sebagai runner up terbaik bersama Bayern Munchen. Di perempat final Giggs mengaku mendapatkan lawan tertangguh selama karir sepakbolanya, yaitu bek sayap kanan Inter Milan asal Argentina, Javier Zanetti. Sepanjang pertandingan kedua pemain ini beradu sprint dan terlibat duel yang seru. United akhirnya melaju ke semi final dengan agregat 3-1.

Di semi final Juventus kembali menjadi lawan yang berat. Di Old Trafford mereka hampir saja tumbang ketika gol Antonio Conte sulit sekali dibalas. Namun di detik-detik akhir, Giggs menjadi pahlawan United dengan mencetak gol penyeimbang menyelamatkan United dari kekakalahan. Di leg ke-2, Giggs memang tidak tampil akibat cedera, namun United berhasil melaju ke final berkat kemenangan dramatis 3-2.

Momen yang terlupakan tentu ketika pertandingan di semi final Piala FA menghadapi Arsenal. Giggs main di pertandingan tersebut namun hasil akhir imbang 0-0 membuat pertandingan harus diulang kembali. Di pertandingan replay, Giggs cuma duduk di bangku cadangan. 90 menit pertandingan berakhir imbang 1-1 dan harus bermain di perpanjangan waktu. Ketika pemain Arsenal sudah kelelahan menghadapi United yang bermain dengan 10 pemain, Giggs dimasukkan menggantikan Jesper Blomqvist. Giggs beraksi. Memotong umpan Patrick Vieira di belakang garis tengah lapangan, dia menggiring bola memperdaya empat pemain Arsenal sebelum melepaskan tendangan keras ke pojok tiang dekat. Fans United pun bersorak dan Giggs merayakan golnya dengan melepaskan seragam United.

“Itu momen yang tak terlupakan, ketika itu manajer menyuruh saya masuk karena melihat pemain Arsenal yang kelelahan. Fans bersorak, dan saya ingin merayakannya bersama mereka” kata Giggs.

Kemenangan itu membuat United melaju ke final Piala FA. Giggs akhirnya berhasil mendapatkan medali Premier Leaguenya yang ke-5 setelah bersaing ketat dengan Arsenal hingga pertandingan terakhir. Medali itu ditambah seminggu kemudian dengan gelar Piala FA di mana United berhasil mengalahkan Newcastle United 2-0. Itu merupakan gelar kedua United musim 1998/1999 dan merupakan medali Piala FA ke-3 buat Giggs. Sukses tersebut dilanjutkan tiga hari kemudian di Nou Camp. Di final Liga Champions, United yang tertinggal 1-0 lewat gol Mario Basler berjuang hingga masa injury time. Bola liar hasil sepak pojok mengarah pada Giggs. Tendangannya terlalu lemah tapi mengarah pada Teddy Sheringham yang berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Selang semenit kemudian, Ole Gunnar Solskjaer berhasil mencetak gol kemenangan United menjadi 2-1. United pun menjuarai Liga Champions.

“Ketika itu aku hendak menendang ke gawang namun bola berputar, untung Teddy berada di sana. Aku tidak langsung merayakannya dan melihat hakim garis tidak mengangkat bendera, artinya tidak ada offside” kata Giggs.

Di usia 25 tahun Giggs berhasil membawa United meraih gelar Liga Champions plus Premier League dan Piala FA. Ini memang bisa dibilang sebagai puncak kejayaan karirnya, namun Giggs tak mau cepat puas. Dia tegaskan ingin meraihnya kembali bersama United dan terus membawa United menjuarai Premier League setiap musimnya. (Uck)

(Bersambung)

Sumber gambar: www.telegraph.co.uk

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com