Biografi Legenda: Ryan Giggs Penyihir dari Wales (5)

iklan mufc agustus3

 

BeritaMUFC.com  Musim 1993/1994 bagi Ryan Giggs tentu terasa istimewa. Berhasil membawa United meraih gelar dobel, dia pun untuk pertama kalinya bermain di kancah Eropa di Piala Champions.


PERHATIAN! Kami telah mendeteksi adanya pelanggaran pidana Hak Cipta berupa pemuatan artikel kami di situs lain tanpa penulisan sumber yang lengkap serta penerapan kaidah yang diperbolehkan secara hukum. Setiap pelanggaran akan kami tuntut sesuai UU No 28 Tahun 2014 Pasal 113 dengan tuntutan maksimal 10 tahun penjara dan/atau denda 4 miliar rupiah.


Awalnya di debutnya di Piala Champions menghadapi Honved, wakil dari Hungary dia cukup tegang, tapi Ferguson pun menenangkan.

“Santai dan nikmatilah permainanmu” kata Ferguson.

Bermain di Jozsef Borzsik, Giggs dan rekan-rekannya pun bermain tenang dan menikmati permainan. United menang 3-2 berkat dua gol pemain baru, Roy Keane dan Eric Cantona. Mereka pun lolos ke babak selanjutnya setelah di Old Trafford menang 2-1. Sayangnya di babak kedua Piala Champions mereka harus ditahan 3-3 oleh Galatasaray.

Di leg ke-2, Ryan Giggs mendapatkan pengalaman yang mengerikan ketika mereka bertandang ke Turki. Mereka diteror dari Bandara hingga hotel tempat mereka menginap. Bukan hanya itu, bahkan di pertandingan keributan terus terjadi ketika pertandingan usai. Bagi Ryan Giggs ini merupakan pengalaman pertama buat dirinya menghadapi suporter lawan yang fanatik seperti itu. Namun dia justru menikmatinya ketika pertandingan. Suara penonton yang berisik seperti justru menambah motivasinya, sayangnya United gagal setelah ditahan imbang 0-0.

Musim 1994/1995 mereka pun berhasil membalas kekalahan mereka atas Galatasaray, namun mereka sama-sama tersingkir di Liga Champions setelah kalah bersaing dengan Barcelona dan Gothenburg yang di atas kertas harusnya mereka bisa kalahkan. Kekecewaan juga terjadi di musim ini. Giggs banyak absen akibat cederanya. Dia hanya bermain 29 pertandingan di Premier League dengan hanya mencetak satu gol. Tapi secara total dia bermain sebanyak 40 pertandingan dan mencetak 4 gol.

Dia memang akhirnya kembali bermain namun gagal membantu United mempertahankan dua gelar mereka. Di Premier League, dihukumnya Eric Cantona membuat motivasi tim menjadi mengendur. Mereka bisa juara jika mengalahkan West Ham di pertandingan terakhir, nyatanya United hanya bermain imbang 1-1 membuat mereka kalah bersaing dengan Blackburn Rovers. Sementara di final Piala FA, Giggs dkk juga menyerang atas Everton 0-1. Giggs yang masuk sebagai pemain pengganti sempat menyia-nyiakan peluang. Inilah kegagalan Giggs ke-2 bersama United di partai final setelah sebelumnya di final Piala Liga 1993/1994 di mana mereka kalah 1-3 di final lawan Aston Villa.

Kegagalan di musim 1994/1995 rupanya membuatnya hancur, tapi ketika liburan dia mendapatkan kabar yang menyedihkan lagi. Teman baiknya, Paul Ince dilepas ke Inter Milan, demikian pula dengan idola sekalgius rekan setimnya di Wales, Mark Hughes dijual ke Wales. Andrei Kanchelskis duetnya di sayap juga dijual ke Everton.

“Ketika itu saya terkejut, klub melepas pemain-pemain kesayangan fans. Tapi yang mengejutkan klub tidak merekrut satu pun pemain menggantikan mereka” kata Giggs.

Ferguson tidak merekrut satu pun pemain, namun dia memilih rekan-rekan seangkatan Giggs untuk menggantikan posisi mereka. Paul Scholes, Nicky Butt, David Beckham, Gary dan Phil Neville masuk ke tim utama.

“Ini mengejutkan sekaligus menyenangkan, kami sudah lama bermain bersama. Banyak pengamat meragukan kami, tapi saya tak pernah meragukan mereka” kata Giggs.

Ryan Giggs menjadi tulang punggung United di musim 1995/1996. Bermain bersama teman-teman sebaya rupanya membuat permainannya meningkat. Belum lagi masih ada senior-senior yang membimbing mereka seperti Denis Irwin, Roy Keane, Gary Pallister, Steve Bruce, Peter Schmeichel, dan Eric Cantona. Di Premier League mereka berhasil memenangkan persaingan dengan tim bertabur bintang Newcastle United.  Gelar ketiga di Liga Giggs itu disandingkan dengan gelar keduanya untuk Piala FA setelah mengalahkan Liverpool di final Piala FA.

Semua pengamat terpana menyaksikan anak-anak muda yang sukses membawa United meraih gelar ganda 1996. Ryan Giggs pun didaulat sebagai pemain kunci di musim itu bersama Eric Cantona, Roy Keane, dan Peter Schmeichel. Giggs juga menjadi incaran banyak klub, termasuk AC Milan yang sudah menawarkan untuk bergabung tapi Ferguson menolaknya. Padahal ketika itu AC Milan menawarkan sejumlah uang plus bintangnya, Roberto Baggio tapi Ferguson tak mau kehilangan bintang mudanya itu.

Sukses di Inggris sudah namun ada yang membuat penasaran Giggs adalah bermain di Eropa. Dia masih belum mengerti mengapa untuk bermain di Eropa selama 2 musimnya di Piala dan Liga Champions, juga semusim di Piala UEFA dia selalu kurang maksimal. Giggs pun bertekat akan membawa United juara di Eropa untuk melanjutkan suksesnya di Inggris. (Uck)

(Bersambung)

 Sumber gambar http://mesqueratlles.blogspot.co.id/

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com