Sejarah MU (14); Era Dream Team 1994

Squad MU memang sudah sempurna, penampilan konsisten sudah lumayan, namun masih ada yang kurang bagi Ferguson, yaitu mental juara.. Di musim 1992/1993, Ferguson berharap timnya lebih bekerja keras. Dia juga berharap menambah amunisi khususnya di lini depan MU akhirnya mendapatkan striker asal Cambridge, Dion Dublin. Namun semuanya tak berjalan lancar, setelah mencetak gol pertamanya ke gawang Southampton, Dublin harus cedera patah kaki dan mengharuskan dirinya absen hingga akhir musim. Kondisi ini memaksa MU untuk mencari striker baru lagi. Penjualan Niel Webb akhirnya menambah kas MU untuk menambah dana transfer. Akhirnya dengan transfer sebesar £1.200.000 MU berhasil mendapatkan Eric Cantona dari Leeds United. Ini merupakan pembelian terbaik Alex Ferguson di mana mereka membeli pemain terbaik rival klub yang mengalahkan mereka meraih gelar Liga.

Format kompetisi yang berubah di musim ini di mana dimulainya Liga Inggris Divisi Satu menjadi Divisi Utama dengan nama Liga Primer Inggris, MU memulai musim dengan tidak begitu bai. Kehadiran Eric Cantona memberi warna lain dari permainan MU. Gol-gol dan skill permainan memberi semangat tersendiri buat para pemain MU. Menghadapi tuan rumah Norwich City, banyak yang memprediksi MU akan kalah, namun pemain MU membalikkan prediksi tersebut dengan bermain luar biasa. Gol dari Ryan Giggs, Andrei Kanchelskis, dan Eric Cantona berhasil menghacurkan harapan Norwich City untuk bersaing menjadi kampium karena setelah kekalahan tersebut, peforma Norwich merosot tajam. MU tinggal bersaing dengan Aston Villa yang ditangani oleh mantan pelatih MU, Ron Atkinson di mana MU berpeluang untuk memimpin klasemen jika berhasil mengalahkan Sheffield Wednesday. Tertinggall 0-1, MU membalikkan keadaan hingga di menit 96 lewat 2 gol Steve Bruce.. Sejak itu, istilah gol di injury time dikenal dengan nama Fergie Time. Akhirnya awal Mei, MU dipastikan menjadi juara Liga Primer. Fans MU berpesta pora merayakan gelar yang ditunggu selama 26 tahun akhirnya datang ke Old Trafford. Gelar Liga pertama bagi Ferguson untuk MU dan gelar ke-8 buat MU yang tertinggal dengan Liverpool yang sudah menjuarai 18 gelar Liga.

Alex Ferguson menjadi manajer ke-3 yang berhasil membawa MU menjuarai Liga di kasta tertinggi setelah Ernest Mangnall dan Matt Busby, namun dia merendah jika dibandingkan pendahulunya tersebut. Dia menegaskan jika ini bukan dari puncak karirnya melainkan baru langkah awal dari langkah yang besar di masa-masa mendatang. Gelandang asal Irlandia yang bermain di Nottingham Forest, Roy Keane menjadi pilihan utama untuk didatangkan di musim 1993/1994 untuk melengkapi tim impian MU. Di bajak sebelum menuju Liverpool, Roy Keane resmi bergabung bersama MU dengan memecahkan rekor transfer Inggris sebesar £3.750.000.

Dengan bergabungnya Roy Keane, MU bisa dikatakan menjadi dream team di masa itu. Peter Schmeichel di posisi penjaga gawang. Di belakang ada Paul Parker di kanan, Denis Irwin di kiri, dan di tengah ada duet sehati Steve Bruce dan Gary Pallister. Di tengah, kecepatan Andrei Kanchelskis di kanan dan Ryan Giggs di kiri menjadikan MU memiliki sayap terbaik di Inggris melengkapi gelandang-gelandang pekerja keras Paul Ince dan Roy Keane. Di depan tidak ada yang meragukan duet Eric Cantona dan Mark Hughes menjadi duet paling maut di lini depan. Sementara dicadangan masih ada Les Sealey, Clayton Blackmore, Lee Sharpe, Mike Phelan, Bryan Robson, Brian McClair, dan Dion Dublin. Dengan tim dream team tersebut, MU tampil luar biasa di musim ini. Mereka langsung merebut trophy Charity Shield de­ngan mengalahkan Arsenal lewat adu penalti setelah bermain imbang 1-1.  Di Liga Primer, MU melaju dari bulan Agustus di mana mereka tampil konsisten memimipin klasemen. Di Piala Liga dan Piala FA mereka juga melaju hingga final. Hanya di Piala Champions MU gagal di babak kedua setelah disingkirkan wakil Turki, Galatasaray di mana MU memiliki pengalaman mengerikan di Turki di mana teror yang mereka dapatkan membuat para pemain kehilangan konsentrasi.

Gagal di Eropa, MU menggeliat di kompetisi domestik dan berpeluang meraih 3 gelar.  Di tengah perjuangan meraih 3 gelar, kabar duku datang di bulan Januari 1994, pelatih legendaris MU, Matt Busby meninggal dunia setelah melihat masa depan MU sudah mulai membaik. Rasa duka dijadikan moivasi buat para pemain MU. Sayangnya 1 gelar di depan mata pupus. Setelah melaju di final Piala Liga, sama halnya tahun 1990 di mana Ron Atkinson menggagalkan MU di final dengan benndera Sheffield Wednesday, kini dengan Aston Villa dia kembali mengalahkan Ferguson dengan skor 1-3 di final. Hal sama hampir terulang di semifinal Piala FA. Menghadapi Oldham, MU harus tertinggal 0-1 di babak perpanjangan waktu sebelum di menit-menit akhir, Fergie Time kembali beraksi dengan bintangnya adalah Mark Hughes yang menyelamatkan MU dari kekalahan dengan gol tendangan volinya. Di partai ulang, MU akhirnya melaju ke final dengan kemenangan telak 4-1 lewat gol Denis Irwin, Bryan Robson, Andrei Kanchelskis, dan Ryan Giggs. Dua gelar yang tersisa akhirnya direbut semua oleh MU. Di Liga Premier memimpin puncak klasemen dari awal, MU tampil konsisten hingga akhir kompetisi. 27 Kemenangan, 11 kali imbang dan hanya 4 kali kalah dengan mencetak 80 gol dan kebobolan 38 kali membawa MU menjuarai Liga Primer untuk kedua kali berturut-turut dengan poin 92 selisih 8 poin dengan Blackburn Rovers di peringkat ke-2. Gelar ke-9 di Liga dipadukan dengan gelar Piala FA setelah di final MIU berhasil mengalahkan Chelsea dengan skor 4-0 lewat 2 gol penalti Eric Cantona, Mark Hughes, dan Brian McClair. Dua gelar ini membuat MU semakin disegani oleh klub-klub Inggris, keadaan yang hampir mirip ketika zaman Matt Busby dan Liverpool di masa jayanya walau Ferguson tidak mau terlena.

Squad dream team memang squad terbaik buat MU setelah era Matt Busby di tahun 60-an, namun Ferguson merasa squadnya ini tidak akan bertahan lama. Faktor usia pemain yang dilihat oleh Ferguson membutuhkan peremajaan. Tak sedikit pemain yang sudah berusia kepala tiga yang menempati posisi inti maupun cadangan. Untuk itu dia mempersiapkan pasukan mudanya di awal musim 1994/1995 untuk belajar dengan tim inti. Untuk memberi jalan squad muda itu beberapa pemain cadangan terpaksa dicoretnya. Ferguson hanya merekrut David May dari Blackburn Rovers sisanya dia menjadikan beberapa pemain muda pemenang FA Youth Cup 1992 sebagai pelapis. Para rekan seangkatan Ryan Giggs dan Colin Mckee antara lain, Chris Casper, John O’Kane, Kevin Pilkinton, Nikcy Butt, Gary Neville, Ben Thornley, Keith Gillespie, Simon Davies, David Beckham, dan Paul Scholes. Di antara mereka selain Paul Scholes, Kevin Pilkington, dan Simon Davies sudah melakoni debut mereka bersama MU di musim 1993/1994. MU memulai awal musim dengan sangat baik Mereka berhasil merebut Piala Charity Shield setelah mengalahkan Blackburn Rovers 2-0 lewat gol Eric Cantona dan Paul Ince. Di pertengahan musim, Ferguson memecahkan rekor transfer Inggris dengan merekrut Andy Cole dari Newcastle dengan transfer sebesar £6.000.000 plus Keith Gillespie sebagai bagian transfer. Awalnya Ferguson bermaksud menggantikan peran Mark Hughes dengan Andy Cole, namun badai datang ketika MU bertandang ke Crystal Palace. Diejek masalah rasis, tendang­an kungfu Eric Cantona pada pendukung tuan rumah mengha­ruskan dia didenda £20.000 oleh MU dan £ 10.000 oleh FA plus skorsing selama 8 bulan tak boleh bermain. Tanpa Eric Cantona, tumpuan di depan pun ada di pundak Andy Cole. Pemain baru tersebut membuktikan dengan gol-gol yang dicetaknya.Ketika menghadapi Ipswich Town, MU berhasil memecahkan rekor kemenangan Liga Primer dengan kemenangan 9-0 di mana Andy Cole mencetak 5 gol, gol lain dicetak oleh Mark Hughes 2 gol, Roy Keane, dan Paul Ince.

Selain Andy Cole, MU juga bertumpu pada sayap kanan Andrei Kanchelskis sebagai pencetak gol terbanyak MU. Kegemilangan Kanchelsis membuat MU bersaing ketat dengan Blackburn Rovers hingga menit-menit akhir. Sayangnya pertengkaran pemain asal Rusia tersebut dengan Ferguson mengakibatkan dirinya harus tersingkir dari tim inti. Tanpa Kachelskis dan Cantona, penampilan MU pun timpang dan menurun. Di pertandingan terakhir yang menentukan, MU diwajibkan mendapatkan 3 poin ketika menghadapi tuan rumah West Ham sementara Blackburn harus bertandang ke Anffield menghadapi Liverpool. Blackburn memang akhirnya kalah menghadapi Liverpool, namun MU juga gagal meraih poin penuh setelah hanya bermain imbang 1-1. MU pun harus rela gelar Liga Primer terbang ke Blackburn yang ditangani Kenny Daglish.Gagal di Liga Primer rupanya berpengaruh dengan penampilan MU di final Piala FA. MU akhirnya harus menerima pil pahit setelah kalah 0-1 oleh Everton di final. Kegagalan mendapatkan satu pun Piala membawa Ferguson mengkalin bahwa era dream team sudah habis. Dia merasa sudah saatnya peremajaan tim dilakukan. Tak tanggung-tanggung dia pun menjual bintang-bintang MU yang menjadi pemain kesayangan fans. Gary Walsh ke Middlesbrough, Mark Hughes ke Chelsea, Andrei Kanchelskis ke Everton, dan Paul Ince ke Inter Milan dengan rekor transfer jual MU sebesar £7.000.000. Fans mengajukan protes dengan penjualan itu, namun Ferguson percaya bahwa ini adalah keputusan terbaik buat MU.

Sumber gambar: www.zimbio.com

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com