The Legend of Eric Cantona (10): Sang Raja Membimbing Para Pangeran Old Trafford

banner mufc agustus1

BeritaMUFC.com  Teriakan publik Old Trafford Oooh…Ahhh….Cantona….. . Itulah sambutan kembali Eric Cantona setelah masa hukuman 8 bulan dilarang tampil. Dia kembali bermain menghadapi Liverpool di Old Trafford pada tanggal 1 Oktober 1995. Pertandingan itu berakhir dengan kedudukan 2-2 di mana Eric Cantona memberi satu assist dan mencetak sebuah gol dari titik penalti.


PERHATIAN! Kami telah mendeteksi adanya pelanggaran pidana Hak Cipta berupa pemuatan artikel kami di situs lain tanpa penulisan sumber yang lengkap serta penerapan kaidah yang diperbolehkan secara hukum. Setiap pelanggaran akan kami tuntut sesuai UU No 28 Tahun 2014 Pasal 113 dengan tuntutan maksimal 10 tahun penjara dan/atau denda 4 miliar rupiah.  


Awal musim 1995/1996, MU melepas tiga pemain kunci mereka. Mark Hughes ke Chelsea, Paul Ince ke Inter Milan, dan Andrei Kanchelskis ke Everton. MU tidak membeli satu pun pemain untuk menggantikan mereka dan memilih memberi tempat para pemain muda seperti Nicky Butt, Gary dan Phil Neville, David Beckham, dan Paul Scholes menyusul pemain muda yang sebelumnya masuk ke tim utama Ryan Giggs dan Lee Sharpe.

Para pemain muda itu banyak yang sudah dikenal Eric Cantona mengingat diakhir sesi latihan, dia hampir selalu meminjam pemain muda untuk menemani latihan tendangan voli yang merupakan sesi latihan tambahan yang dibuatnya sendiri. Kehadiran kembali Eric Cantona itu membuat peran Alex Ferguson untuk memberi moitvasi para pemain muda menjadi lebih mudah. Eric Cantona menjadi inspirasi para lulusan Class 92 itu dan membubuhkan mental juara pada mereka.

Permainan pemain muda menjadi lebih percaya diri. Ryan Giggs dan Lee Sharpe mungkin sudah lama bermain bersamanya, namun pemain seperti Neville bersaudara, Butt, Scholes, dan Beckham ketika itu menjadi lebih bersemangat walau ketika itu mereka belum sepenuhnya matang sebagai pemain utama.

Eric Cantona bahkan didaulat sebagai kapten jika Steve Bruce berhalangan tampil. Ketika itu penantang utama MU adalah tim bertabur bintang Newcastle United. Tapi walau tertinggal 10 poin di paruh pertama, Eric Cantona sukses membawa MU mendekati pesaingnya itu di Liga.

Selama paruh kedua musim tersebut, beberapa pertandingan banyak yang lebih berakhir kemenangan 1-0 dengan Cantona selalu mencetak satu-satunya gol, kecuali ketika Cantona menyamakan kedudukan dengan Queens Park Rangers pada tanggal 9 Maret yang membuat MU menyalip Newcastle dengan keunggulan selisih gol untuk pertama kalinya di musim itu.

Bukan hanya itu, dia bahkan mencetak gol tunggal ketika MU bertemu Newcastle di St. James Park yang disebut-sebut sebagai partai penentuan menjuarai Liga. Walau waktu itu Peter Schmeichel disebut-sebut sebagai man of the match, namun berkat gol tunggal Eric Cantona yang menjadi penentu kemenangan MU. Akhir musim dia akhirnya sukses membawa MU kembali meraih gelar Liga yang gagal mereka pertahankan musim sebelumnya. Kesuksesan Eric Cantona ditambah dengan meraih predikat pemain terbaik di Inggris pada tahun 1996.

Bukan hanya di Liga, dia juga membawa MU menuju final Piala FA dengan gol-golnya. Hanya ketika menang 2-1 menghadapi Chelsea di semifinal dia tidak mencetak gol, tapi perannya ketika itu tetap penting di mana dia menyelamatkan MU dari serangan Ruud Gullit dengan sundulan kepalanya. Di final Piala FA, dia lagi-lagi menjadi pahlawan MU. Menghadapi Liverpool di stadion Wembley, tendangan volinya di menit-menit akhir pertandingan membawa MU menang 1-0 dan membawa MU meraih Dobel Winners kedua seperti yang dilakukannya di musim 1993/1994.

Musim itu mungkin terlihat aneh, MU yang mengandalkan Eric Cantona dikelilingi anak-anak muda justru menjuarai Liga Inggris dan Piala FA dibandingkan dengan Newcastle yang memiliki pemain bintang macam Asprillia, Les Ferdinand, Peter Beardsley, Roberth Lee, Phil Albert, dan David Ginola. Sayangnya sukses di Inggris tak berarti dirinya dihargai di negara sendiri. Namanya tetap tak dipanggil untuk EURO 1996, dan yang lebih menyakitkan, turnamen tersebut justru digelar di Inggris, tempat namanya bersinar terang dan dipuja-puja banyak orang.  (Uck)

Bersambung bagian 11

Sumber gambar: www.dailymail.co.uk

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com