The Legend of Eric Cantona (11-Tamat): Sang Raja Akhirnya Turun Tahta

banner mufc agustus1

BeritaMUFC.com  Kesuksesan Eric Cantona di Inggris tak perlu dipertanyakan lagi. Namun satu hal yang mengganjal pikirannya adalah keinginan membawa MU sukses di Eropa. Itu yang selama ini belum pernah dicapainya.


PERHATIAN! Kami telah mendeteksi adanya pelanggaran pidana Hak Cipta berupa pemuatan artikel kami di situs lain tanpa penulisan sumber yang lengkap serta penerapan kaidah yang diperbolehkan secara hukum. Setiap pelanggaran akan kami tuntut sesuai UU No 28 Tahun 2014 Pasal 113 dengan tuntutan maksimal 10 tahun penjara dan/atau denda 4 miliar rupiah.  


Sejak di MU, Eric Cantona selalu kandas di kompetisi Eropa. Musim 1993/1994 MU disingkirkan oleh tim Turki Galatasaray, sementara di musim 1994/1995 mereka malah disingkirkan oleh Barcelona dan Gothenburg di fase grup. Ketika itu memang pembatasan 3 pemain asing menyulitkan MU. Pemain asal Britania Raya seperti Irlandia, Wales, dan Scotlandia di mana di Inggris tak dianggap pemain asing tapi di Eropa mereka tetap dibatasi sebagai pemain asing.

Karena ketika itu MU tidak bisa memainkan Andrei Kanchelskis, Ryan Giggs, Mark Hughes, Peter Schmeichel, Roy Keane, Denis Irwin, Brian McClair, dan Eric Cantona sendiri secara bersamaan. Hanya tiga dari mereka yang boleh bermain.

Kini di musim 1996/1997 aturan pemain asing itu pun mulai berubah. Aturan Bosman membuat pemain dari Uni Eropa bisa tampil berapapun di kompetisi Eropa. Dengan modal tersebut, Alex Ferguson pun yakin dengan kepemimpinan Eric Cantona yang menjadi kapten tetap setelah Steve Bruce hengkang, bisa dipadukan dengan Peter Schmeichel, Denis Irwin, Roy Keane, dan Ryan Giggs plus para pemain berpengalaman di Eropa macam Karel Poborsky, Jordi Cruyff, Ole Gunnar Solskjaer, dan Ronny Johnsen.

Kemampuan Eric Cantona di usia 32 tahun ketika itu sebenarnya sudah menurun, namun dia masih bisa membimbing para pemain muda yang sudah mulai matang. Bahkan dia bisa membimbing dua penyerang MU, Andy Cole dan Ole Gunnar Solskjaer. Khusus Solskjaer, dengan bimbingannya anak muda itu menjelma menjadi mesin gol MU dan banyak lahir dari umpan-umpan Eric Cantona.

Bukan hanya Solskjaer, dia juga sukses membimbing pemain muda yang belum terkenal menjelma menjadi superstar, David Beckham. Kedua pemain tersebut mengaku melejit berkat Eric Cantona.

“Cantona sudah seperti kakak saya sendiri, dia banyak membantu sejak saya pertama kali di klub ini” kata Ole Gunnar Solskjaer.

“Dia berkata ‘gol yang bagus’. Pujian darinya adalah sesuatu yang lebih spesial dibandingkan gol itu” kata David Beckham usai mencetak gol dari tengah lapangan ketika menghadapi Wimbledon Agustus 1996.

“Ia adalah pria pendiam, namun ia punya kata-kata yang hebat. Dan ketika ia berbicara pada Anda, maka akan selalu terasa spesial, entah perkataannya atau informasi yang pasti Anda butuhkan.” Lanjut Beckham.

Perjalanan MU di Liga Champions memang tak semudah yang diperkirakan. Mereka lolos dari fase grup sebagai runner up di bawah Juventus yang mengalahkan mereka dua kali. Walau begitu perjalanan di Liga cukup lancar. Eric Cantona kembali membawa MU mempertahankan Liga Inggris dan menjadi gelar kelimanya di Inggris dan 4 bersama MU.

Sayangnya target di Liga Champions harus kandas. Walau mereka dijagokan masuk ke final untuk bertemu Juventus, mereka harus tersingkir di semifinal oleh tim asal Jerman, Borussia Dortmund. Kekalahan itu rupanya membuat semangat Cantona pun turun. Dia sudah kehilangan gairah untuk bermain sepak bola lagi. Akhir musim tanpa diduga-duga dia mengumumkan gantung sepatu di usia 32 tahun.

Keputusan tersebut tentu saja mengejutkan banyak orang termasuk Alex Ferguson. Walau begitu dalam hati kecil Fergie, dia merasa lega karena Cantona tidak pindah klub dan memilih pensiun. Seberani-beraninya Ferguson, dia tetap saja takut jika Cantona hengkang ke klub lain.

Selama di MU dia memang spesial. Bek MU, Gary Pallister pernah membocorkan bahwa Ferguson tidak punya nyali untuk memarahi Cantona walaupun dia berulah. Ketika tragedi tendangan kungfu, para pemain MU menduga Ferguson akan memarahi Cantona dan ternyata dugaan mereka meleset.

“Tentu itu waktu yang tepat buat Fergie marah pada Cantona. Nyatanya dia tak mengatakan apapun pada Cantona dan membuat kami semua terkejut,” kata Gary Pallister.

“Tapi untuk seorang yang mudah marah, Cantona sangat sabar. Hampir di kandang lawan dia selalu diejek namun tetap sabar,” kenang Pallister.

“Saya akan memberikan semua sampanye yang pernah saya minum untuk bisa bermain bersama dia (Cantona) dalam pertandingan besar Eropa di Old Trafford.” Kata George Best memuji peran Cantona.

“Dalam satu lawan satu, Cantona adalah penyelesai terbaik di dunia” puji Roy Keane.

Kini sang raja telah turun tahta. Namun dia sudah mewariskan sesuatu yang berharga sebelum dia pergi meninggalkan tahtanya, yaitu mental juara. Para class 92 mewarisi semangatnya dan berjaya di musim fenomenal dengan meraih Treble Winners 1999 walau ketika itu Cantona sudah tak ada di situ.

Selama di MU, Cantona mencetak total 64 gol liga untuk Manchester United, 11 di kompetisi piala domestik, dan 5 di Liga Champions, dengan total 80 gol dalam waktu kurang dari lima tahun bersama MU. Setelah pensiun Cantona kemudian merambah ke dunia akting melanjutkan darah senimannya. Walau sudah tak bersama MU, namanya selalu dikenang sebagai awal dari kebangkitan MU di era Ferguson dan tetap menjadi legenda di MU.

Nantikan sosok Legenda MU lainnya hanya di beritamufc.com (Uck)

Sumber gambar: www.telegraph.co.uk

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com