The Legend of Eric Cantona (9): Gagal Berangkat ke World Cup 1994 Hingga Tendangan Kungfu

iklan mufc agustus3

BeritaMUFC.com  Eric Cantona menggeleng-gelengkan kepala. Dia tidak percaya umpan silang David Ginola padanya justru dipotong oleh pemain Bulgaria dan menyebabkan gol penentu kemenangan Bulgaria atas Perancis 2-1 di pertandingan penentuan kualifikasi Piala Dunia 1994.


PERHATIAN! Kami telah mendeteksi adanya pelanggaran pidana Hak Cipta berupa pemuatan artikel kami di situs lain tanpa penulisan sumber yang lengkap serta penerapan kaidah yang diperbolehkan secara hukum. Setiap pelanggaran akan kami tuntut sesuai UU No 28 Tahun 2014 Pasal 113 dengan tuntutan maksimal 10 tahun penjara dan/atau denda 4 miliar rupiah.  


Sebelum pertandingan itu, David Ginola mengkritik kebijakan pelatih tim nasional Perancis, Gerard Houllier yang lebih mempercayakan posisi penyerang pada Eric Cantona dan Jean-Pierre Papin yang merupakan mantan dan pemain Marseille, sementara Ginola ketika bermain di Paris SG, musuh bebuyutan Marseille.

Pertandingan tanggal 17 November 1993 tersebut bermain di Paris. Kontan kritik Ginola tersebut mempengaruhi sikap pendukung Perancis yang lebih banyak mencemooh Cantona dan Papin. Perancis sendiri sempat unggul 1-0 lewat gol Eric Cantona setelah bekerja sama dengan Papin. Seelah Bulgaria menyamakan kedudukan, Ginola kemudian dimasukkan menggantikan Papin hingga membuat kesalahan di menit krusial.

Hubungan Cantona dan Ginola pun dikabarkan merenggang akibat kritik itu, namun Cantona sebagai kapten tim pun tak mempersoalkan kritik Ginola. Walau begitu rasa frustai Cantona yang gagal bermain di Piala Dunia tetap mengecewakan hatinya.

Di musim 1994/1995 bersama MU dia bertekat membawa timnya kembali menjadi juara liga 3 musim berturut-turut. Bersaing ketat dengan Blackburn Rovers, laju MU yang sebelumnya tersendat kembali berpeluang mempertahankan mahkota. Cantona memimpin rekan-rekannya berhasil mengejar ketinggalannya. Bahkan dia mencetak gol tunggal ke gawang Blackburn di Old Trafford membuat mereka berpeluang untuk menjuarai Premier League.

Sayangnya setelah itu badai kembali datang. Layaknya pemain bintang, lawan-lawan MU berulangkali memprovokasinya karena mereka tahu, untuk mengalahkan MU adalah dengan membuat konsentrasi Cantona terpecah. Tackle Vinnie Jones ketika MU menghadapi Wimbledon tidak mempan. Malah ketika itu dia mencetak gol indah.

Namun ketika bertandang ke Crystal Palace, tanggal 25 Januari 1995 Cantona diusir oleh wasit karena tendangan bek Palace Richard Shaw setelah Shaw telah menarik bajunya. Ketika berjalan menuju lorong ganti, seorang fans Palace, Matthew Simmons diduga mengatakan kata-kata kasar. Cantona yang mendengar kata-kata itu segera menyerangnya dan melepaskan tendangan kungfu diakhiri dengan sebuah pukulan.

“Itu adalah sebuah drama dan saya adalah aktornya. Saya melakukan hal itu dengan serius tanpa memikirkan apa yang akan terjadi dengan diri saya sendiri. Tetapi saya tidak menendangnya dengan keras. Saya harusnya lebih keras lagi menendangnya.” Kata Eric Cantona mengenang tragedi tersebut.

Beberapa kritikus mengusulkan agar tidak pernah diizinkan untuk bermain sepak bola di Inggris lagi, sementara yang lain malah mengusulkan larangan bermain sepak bola seumur hidup.Tuntutan pidana penyerangan, dia difonis hukuman penjara dua minggu, namun ia dibebaskan dengan jaminan diganti dengan hukuman 120 jam pelayanan masyarakat.

Di konfrensi pers, dia malah membuat orang bingung dengan puisi yang diucapkannya. Kata-kata itu kemudian masih dikenal hingga sekarang.

“Ketika camar mengikuti sebuah kapal, itu karena mereka berpikir sarden akan dibuang ke laut. Terima kasih banyak”

MU kemudian mendendanya sebesar £ 20.000 dan mengkonfirmasi bahwa ia tidak akan bermain untuk tim pertama untuk sisa musim ini. FA kemudian memberi sanksi larangan tampil selama delapan bulan (sampai 30 September 1995) dan denda £ 10.000. FIFA kemudian mengumumkan bahwa sanksi itu untuk seluruh dunia, yang berarti bahwa Cantona tidak bisa ditransfer atau dipinjamkan ke klub asing.

Asosiasi Sepak Bola Perancis (FFF) kabarnya bahkan mempengaruhi FA untuk mengusir Eric Cantona dari sepak bola seumur hidup, namun FA menolak karena Inggris sangat menghargai pesepakbola walau dia penuh dengan masalah. Walau FA menolak, tim nasional Perancis kemudian mencopot ban kaptennya dan tak pernah memanggilnya kembali ke tim nasional. Tanpa eric Cantona, Mupun akhirnya gagal mempertahankan gelar ganda setelah ditahan imbang 1-1 oleh West Ham United di pertandingan terakhir Liga (padahal mereka hanya butuh sekali kemenangan) dan kalah 1-0 oleh Everton di final Piala FA.

Ada spekulasi media  Cantona akan meninggalkan Manchester United dan bergabung ke Inter Milan jika masa hukumannya berakhir tapi Alex Ferguson membujuknya untuk tinggal di Manchester. Bahkan MU justru memperpanjang kontraknya.

“Inilah hebatnya. Di negara lain, jika ada masalah seperti ini klub akan menjual atau memutus kontrak pemain, namun Man. United malah menawarkan aku perpanjang kontrak. Inilah alasan aku sangat mencintai klub ini” kata Cantona.

Tapi dua minggu setelah itu MU malah dikecam oleh FA akibat memainkan Cantona dalam latihan pertandingan. Merasa tidak enak dengan MU, Cantona pun meminta memutus kontraknya. Permintaan itu ditolak dan dua hari kemudian, setelah pertemuan di Paris dengan Alex Ferguson, ia menyatakan bahwa ia akan tetap bersama MU. (Uck)

Bersambung bagian 10

Sumber gambar: www.fourfourtwo.com

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com