Sejarah MU (17); Puncak Kejayaan Pasca Treble

Prestasi sensasional MU di musim 1998/1999 membuat Ferguson mendapat anugrah gelar Sir sama seperti pendahulunya Matt Busby. Kendati demikian, Ferguson tidak mau terlena dengan prestasi tersebut. Dia justru menjadikan sebuah tantangan untuk mencapainya kembali bersama MU. Untuk musim 1999/2000 Ferguson jelas percaya diri mengingat timnya hanya kehilangan, Erik Nevland, Richard Wellens, dan Peter Schmeichel yang hengkang ke Sporting Lisbon. MU sudah mendapat penggantinya , yaitu Mark Bosnich yang kembali ke MU setelah hengkang ke Aston Villa tahun 1991 silam. Di musim ini, MU juga terpaksa absen di Piala FA karena mendapatkan undangan untuk mengikuti turnamen World Cup Club di Brazil. Namun baru awal musim, MU sudah harus menggapai kegagalan di Charity Shield di mana MU tumbang 1-2 atas Arsenal. Masalah cedera juga menghantui MU, Ronny Johnsen, Wes Brown, dan Jesper Blomqvist harus absen di musim ini. Ditambah tidak meyakinkannya penampilan Bosnich membuat Feruson merekrut pemain baru. Quentin Fortune, Mikale Silvestre, dan Masimmo Taibi didatangkannya. Namun kendala bahasa menyulitkan Taibi plus blunder ketika MU bermain imbang 3-3 dengan Southampton dan kalah 0-5 lawan Chelsea mengakhiri karir Taibi di MU. Bosnich dan Raimond van der Gouw kembali jadi pilihan utama Ferguson. Gagal kembali di Piala Super setelah kalah 0-1 menghadapi Lazio,  juga kalah 0-3 di babak ke-3 Piala Liga menghadapi Aston Villa, namun di Liga. Roy Keane tampil superior di perjalanan MU dan membawa MU lolos ke babak perempatfinal Liga Champions. MU juga berhasil merebut Piala Intercontinental setelah mengalahkan Palmeiras 1-0 lewat gol tunggal Roy Keane. Sayangnya MU meraih kegagalan di FIFA Club World Championship di mana kalah bersaing dengan tuan rumah Vasco da Gama. Kegagalan berlanjut di Liga Champions di mana mereka disingkirkan oleh Real Madrid di babak perempatfinal. Kegagalan menjadi cambuk buat MU yang akhirnya berhasil mempertahankan trophy Liga Primer ke-13 dengan selisih 18 poin dari peringkat ke-2, Arsenal dan mencetak 97 gol dalam semusim di ajang Liga.

Kendati menjuarai Liga Primer, Alex Ferguson masih belum puas de­ngan squadnya. Kecewa dengan penampilan Mark Bosnich, MU akhirnya memboyong penjaga gawang juara Dunia dan Eropa, Fabien Barthez de­ngan rekor transfer sebagai penjaga gawang sebesar £7.800.000. Selain itu di tengah kompetisi 2000/2001, Ferguson juga sempat meminjam Andrew Goram. Kematangan squad juga memakan korban para pemain cadangan. John Curtis, Michael Twiss, Danny Higginbotham, Jordi Cruyff, Massimo Taibi, Alex Notman, Henning Berg, David Healy, dan Mark Bosnich hengkang ke klub lain. MU mengawali musim dengan kembali kegagalan di Charity Shield setelah kalah 0-2 menghadapi Chelsea. Namun mereka terus melaju di Liga Primer dengan kebangkitan Teddy Sheringham yang menggantikan peran Dwight Yorke yang peformannya menurun drastis. Sayangnya pefroma mereka di ajang Piala tidak begitu baik. Di Piala Liga, MU harus tersingkir oleh SUnderland di babak ke-4, sementara di Piala FA giliran West Ham United yang mengalahkan mereka 0-1 di babak ke-4. Di Lia Champions, MU melaju hingga babak perempatfinal namun kali ini, Bayern Munchen sukses menyingkirkan MU yan sebelumnya sudah memastikan menjadi juara Liga Primer yang ke-14. Menjadi juara Liga 3 kali berturut-turut menjadi prestasi tersendiri buat Ferguson, karena dirinya satu-satunya manajer yang melakukannya di Inggris. Liverpool pernah melakukannya namun de­ngan 2 manajer yang berbeda.

Squad MU memang kuat di Liga tapi sudah susah bersaing di Eropa membuat Ferguson merombak squadnya. Dia melepas beberapa pemain seperti Teddy Sheringham, Mark Wilson, Jonathan Greening, Michael Clegg,  Jaap Stam yang menjadi penjualan terbesar MU dengan transfer sebesar £16.500.000 ke Lazio, dan Jesper Blomqvist.Sebelumnya Ferguson memecahkan transfer pembelian dengan merekrut Ruud van Nistelrooy dari PSV Eindhoven sebesar £19.000.000 dan Juan Sebastian Veron sebesar £28.100.000. Untuk menggantikan Stam, dia juga merekrut beck veteran, Laurent Blanc dari Inter Milan dan juga penjaga gawang dari Wigan, Roy Carroll. Perubahan pola permainan juga dilakukan Ferguson. Dari pola 4-4-2 digantinya menjadi 4-5-1 untuk memaksimalkan peran Veron dan Nistelrooy. Ternyata perubahan pola ini membuat pefroma MU menjadi menurun. Para pemain terlambat beradaptasi membuat penampilan MU di Liga menjadi labil. Di Babak ke-3  Piala Liga mereka dibantai Arsenal 0-4 sementara di Piala FA MU di­singkirkan Middlesbrouh 0-2 di babak ke-4.  Namun pola itu terbukti ampuh di Liga Champions di mana mereka melaju hingga semifinal. Perubahan pola itu juga membatasi tampilnya Andy Cole yang akhirnya memutuskan hengkang ke Blackburn Rovers. MU cepat mendapatkan penggantinya, yaitu Diego Forlan dari Uruguay. Buruknya musim ini membuat Ferguson yang sebelumnya berencana pensiun di akhir musim akhirnya membatalkan niatnya. MU mulai bisa beradaptasi dengan pola baru dan Ruud van Nistelrooy menjadi pemain paling produktif di MU bahkan sempat memecahkan rekor mencetak gol di sebelas pertandingan berturut-turut. Cederanya David Beckham, Roy Keane, dan Gary Neville membuat peforma MU menjadi menurun, Arsenal akhinya sukses merebut Juara Liga Primer setelah mengalahkan MU 0-1 di Old Trafford.   MU senidrir akhinya hanya berada di peringkat 3 di bawah Arsenal dan Liverpool. Di Liga Champions, ambisi MU ke final juga kandas setelah disingkirkan Bayern Leverkusen di semifinal.

Tanpa satu trophy pun di musim 2001/2002 jelas menyakitkan buat klub sebesar MU. Ferguson berambisi untuk membanun kembali tim dari awal. Menganalisis kelemahan MU di musim sebelumnya, Ferguson berniat memperbaikinya di musim 2002/2003 demi membawa kembali trophy yang terbang ke Arsenal. Lemahnya pertahanan MU setelah ditinggalnya Jaap Stam adalah salah satu penyebab buruknya peforma MU. Ferguson lalu merekrut Rio Ferdinand dari Leeds United dengan memecahkan rekor transfer klub sebesar £30.000.000. Selain itu MU melepas empat penjaga gawang mereka, yaitu Andrew Goram, Raimond van der Gouw, Paul Rachubka, dan Nick Culkin. Mereka dilepas karena MU sudah mendatangkan penjaga gawang asal Spanyol, Ricardo Lopez. Pemain-pemain lain yang tak berkembang dan sudah berusia juga dilepas oleh Ferguson. Ronny Johnsen, Denis Irwin, Ronnie Wallwork, dan Dwight Yorke dilepas untuk memperamping jumlah squad yang ada di MU. Jika sebelumnya Ronnie Wallwok, Michael Stewart, dan Luke Chadwick sempat hampir masuk squad utama, kini Ferguson juga mempromosikan pemain muda kembali, yakni John O’Shea. Seperti sebelumnya, MU memulai musim dengan terlambat start. Mereka sempat terseok-seok baik di Liga Primer maupun di Liga Champions. Lambat laun kondisi MU membaik seiring dengan produktifnya Nistelrooy dalam mencetak gol. Di Liga Champions, MU berhasil menembus perempatfinal sementara di Piala Liga, MU berhasil menembus ke final walau akhirnya kalah menghadapi Liverpool 0-2. Di Piala FA langkah MU terhenti di babak ke-5 setelah dikalahkan Arsenal 0-2 di Old Trafford. Kekalahan tersebut berujung pada kasus sepatu terbang Ferguson yang mengenai mata David Beckham. Semenjak itu hubungan Beckham dan Ferguson pun tidak harmonis kembali. Di Liga Champions lagi-lagi Real Madird menyingkirkan MU di perempatfinal walau MU menang 4-3 di Old Trafford namun kekalahan 1-3 di Benerbeu tidak cukup buat MU untuk lolos ke babak semifinal. Kegagalan di Liga Champions tersebut juga berpengaruh dengan kepercayaan Ferguson pada Fabien Barthez yang akhirnya tak pernah tampil lagi bersama MU. Kegagalan di semua Piala membuat MU fokus mengejar juara Liga. Butuh di bulan terakhir buat MU untuk menjadi puncak klasemen menggusur Arsenal yang sebelumnya kokoh di puncak klasemen. kekalahan Arsenal atas Leeds akhirnya membantu MU memperoleh gelar Liga yang ke-15. Fans menyambut pesta kemenangan MU di kandang Everton namun mereka tak akan menyangka jika beberapa minggu kemudian, David Beckham sebagai ikon MU dijual ke Real Madrid. Tawaran sebesar £25.000.000 dari Real Madrid diterima oleh MU untuk memboyong David Beckham. Kepergian David Beckham menjadi awal dari berakhirnya era keemasan squad Class 92 yang masih tersisa yaitu Ryan Giggs, Nicky Butt, Paul Scholes, Gary Neville, dan Phill Neville. Kini Ferguson berencana mengganti mereka dengan generasi-generasi baru.

Sumber gambar: www.manchestereveningnews.co.uk

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com