Sejarah MU (11); Big Ron di Bawah Dominasi Liverpool

BeritaMU_sejarahMU00017

Musim 1981/1982 adalah tugas pertama dari Big Ron (julukan Atkinson) untuk menangani MU. Tanpa membuang-buang waktu, dia menjual beberapa pemain yang dianggapnya tidak sesuai dengan metodenya. Chris McGrath, Joe Jordan, dan Mickey Thomas dijualnya. Dia mengantisipasinya dengan membeli pemain-pemain yang sering merepotkan MU. John Gidman dari Everton, Frank Stapleton dari Arsenal, dan dua pemainnya di W.B.A, Bryan Robson dan Remi Moses dengan rekor transfer buat Robson sebesar £1.500.000. Selain mengandalkan pemain baru tersebut, Atkinson juga banyak mempercayai pemain muda untuk mengisi squadnya. Mike Duxbury di beck kanan dipercayanya untuk menyingkirkan Jimmy Nicholl. Selain Duxbury, dia juga memberi kesempatan pada Scott McGarvey, Alan Davies, dan pemain muda berusia 17 tahun lebih 8 hari, Norman Whiteside yang merupakan debut sensasional dengan langsung mencetak gol buat MU. Kedatangan Bryan Robson dan kepercayaan Atkinson pada Duxbury menyingkirkan pemain lama.

Musim 1982/1983, Ron Atkinson ingin membangun tim dengan yang lebih tangguh. Dengan percaya diri dia merekrut beck Paul McGrath, wingger asal Belanda, Arnold Muhren, dan pemain muda, Peter Bardsley. Perjalanan MU di musim ini cukup baik. MU konsentrasi di Piala FA di mana MU kembali bertemu Arsenal di semifinal. Seperti di Piala Liga, Arsenal dikalahkannya dengan skor 2-1 di mana Bryan Robson yang menjadi kapten setelah Martin Buchan mengalami cedera mencetak gol bersama Norman Whiteside. Di final, MU bertemu Brighton & Hove Albion. MU nyaris mengalami kesalahan kembali ketika gol Frank Stapleton dan Ray Willkins menjadi percuma karena keunggulan 2-1 harus disamakan menjadi 2-2 oleh Gary Stevens di menit 87. Hasil imbang 2-2 ini membuat pertandingan harus diulang kembali. Di partai ulang, MU berhasil menggulung Brighton & Hove Albion 4-0 lewat 2 gol Bryan Robson, Norman Whiteside, dan penalti Anorld Muhren.

Ron Atkinson jelas belum puas dengan pencapaian di Piala FA. Musim 1983/1984 dia melepas beberapa pemain. Terbatasnya dana transfer membuat Atkinson hanya mempermanenkan Jeff Wealands dari pinjaman menjadi tetap, membeli Arthur Graham dari Leeds United, dan meminjam Garth Crooks dari Tottenham selama 2 bulan. Atkinson tidak kehilangan akal, dia mengorbitkan beberapa pemain muda untuk masuk squad utama. Clayton Blackmore, Graeme Hogg, Mark Dempsey, dan Mark Hughes melakoni debut mereka di musim ini. Awalnya perjalanan MU cukup meyakinkan. MU berhasil menjuarai Charity Shield dengan mengalahkan Liverpool 2-0 lewat dua gol sang kapten baru, Bryan Robson. Mereka juga sempat memimpin klasemen di Liga, namun seiring waktu peforma mereka menurun. Yang menarik adalah di Piala Winners. Di babak perempatfinal, MU harus mengalami kekalahan 0-2 di Nou Camp ketika dijamu Barcelona yang diperkuat sang mega bintang Diego Armando Maradona. Di pertandingan ke-2 di Old Trafford, semangat juang MU diperlihatkan para pemain dengan cara luar biasa. Tampil pantang menyerah, dua gol Bryan Robson dan sebuah gol dari Frank Stapleton membawa MU unggul 3-0. Membalikkan keadaan ini menjadi pertandingan bersejarah yang dikenang oleh para fans dan pemain-pemain MU. Bryan Robson dipuji setinggi langit walau perjalanan MU belum selesai. Benar di semifinal menghadapi Juventus, MU harus mengalami hasil seri 1-1 di Old Trafford dan gol Paolo Rossi di menit 89 menjadi penentu kekalahan MU 1-2 di Turin. MU akhirnya gagal ke final Piala Winners. Seiring dengan kegagalan itu peforma MU di Liga juga merosot tajam. Kekalahan demi kekalahan mengakibatkan MU hanya berada di peringkat 4 klasemen akhir. Ambisi Atkinson untuk menembus dominasi Liverpool pun gagal total.

Kegagalan meraih trophy di musim sebelumnya membuat Atkinson berbenah di awal musim 1984/1985. Yang mengejutkan adalah hengkangnya Ray Wilkins ke AC Milan dengan rekor transfer jual buat MU sebesar £1.500.000. Kepergian Wilkins disusul oleh Scott McGarvey dan Lou Macari. Atkinson memakai uang hasil penjualan mereka dengan membeli beberapa pemain yang dibutuhkan tim. Alan Brazil datang dari Tottenham, winger asal Denmark, Jesper Olsen dari Ajax Amsterdam, dan gelandang Gordon Strachan dari Aberdeen. Dia juga meminjam Peter Barnes dari Leeds United untuk 2 bulan Atkinson juga kerap memasang Norman Whiteside yang dido­rong sedikit ke belakang. Sementara di depan duet Mark Hughes dan Frank Stapleton dilapisi oleh Alan Brazil. Seperti musim sebelumnya, penampilan MU di awal musim sangat meyakinkan. Memulai 11 pertandingan tak terkalahkan membuat banyak yang memprediksi MU akan menjuarai Liga musim ini. Namun ketatnya pertandingan membuat semua menjadi tak berarti, hanya berada di peringkat ke-4 klasemen akhir. Untunglah nasib baik menghampiri MU di Piala FA. Melaju ke semifinal, MU harus bermain di partai ulang setelah imbang 2-2 menghadapi Liverpool. Pertandingan ulang sendiri MU nyaris kalah setelah tertinggal 0-1 di babak pertama akibat gol bunuh diri Paul McGrath. Untunglah di babak kedua MU bangkit dengan membalikkan keadaan menjadi 2-1 lewat gol Bryan Robson dan Mark Hughes. Di final, Everton telah menanti. Perlawanan ketat Everton membuat MU sedikit frustasi. Akibatnya MU s akhirnya harus bermain dengan 10 pemain setelah Kevin Moran di kartu merah. Ketika di perpanjangan waktu setelah bermain imbang 0-0, aksi individu Norman Whiteside dilanjutkan dengan tendangan melengkung yang indah membuat MU berhasil unggul 1-0. Gol ini membawa MU meraih Trophy Piala FA yang ke-6 kalinya.

Meraih 2 gelar Piala FA dan 1 Charity Shield sebenarnya prestasi tersebut sudah cukup bagus, namun bagi fans tetap ada yang kurang. Pasalnya sudah 20 tahun MU menantikan gelar Liga yang tak kunjung tiba di Old Trafford. Untuk awal musim 1985/1986, MU bermain cukup baik di 15 pertandingan awal Liga tanpa terkalahkan. Mark Hughes menjadi pemain paling produktif di MU dengan 17 gol, namun setelah Natal produktivitas Hughes menurun. Bermula dari diumumkannya hengkangnya Huhes ke Barcelona di akhir musim dengan harga rekor transfer jual £2.000.000 membuat semangat juangnya menghilang. . Di Liga MU kembali berada di peringkat 4 klasemen akhir. Suatu langkah tetap dan tak ada kemajuan.

Musim 1986/1987, Atkinson mengalami cobaan berat. Ada isu dirinya akan dipecat dan digantikan oleh Alex Ferguson, manajer Aberdeen. Namun isu tersebut dianggapnya sebagai pemacu semangat dirinya untuk memberikan motivasi pada para pemain. Hilang­nya Mark Hughes ternyata disusul oleh Mark Dempsey dan John Gidman. Atkinson sendiri telah membeli gelandang  Liam O’Brien untuk mengisi posisi Jesper Olsen yang bertengkar dengan rekan setimnya, Remi Moses dan dimasukkan ke daftar jual. MU sendiri mengawali musim dengan krisis pemain setelah Bryan Robson, Gary Bailey, Norman Whiteside, Gordon Strachan, Paul McGrath, dan Arthur Albiston mengalami cedera. Akibatnya penampilan MU sangat buruk. Hanya 3 kali kemenangan dari 13 pertandinan membuat posisi MU jatuh ke zona degradasi. Puncaknya ketika MU dibantai oleh Southampton 1-4 di Piala Liga membuat tidak ada toleransi lagi buat Ron Atkinson. Direksi MU segera mengumumkan pemecatan pelatih bertangan dingin tersebut setelah 5 tahun menangani MU dan meraih 2 gelar Piala FA. Kini MU pun sibuk mencari pengganti Ron Atkinson dan dalam waktu 24 jam akhirnya MU deal dengan pelatih yang sukses bersama Aberdeen, Alex Ferguson.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com