Sejarah MU (15); Mematangkan Class 92

Kepergian tiga pemain pilar, yakni Mark Hughes, Andrei Kanchelskis, dan Paul Ince. membuat fans meragukan MU dapat berbuat banyak di musim 1995/1996. Keputusan Ferguson ini jelas banyak yang mempertanyakan apalagi di samping kehilangan 3 pilar tersebut, MU juga kerap kehilangan Paul Parker dan kapten Steve Bruce yang kerap cede­ra juga Eric Cantona yang masih dalam hukuman larangan bermain. Untuk masalah ini, Ferguson mene­gaskan akan memperkuat timnya dengan beberapa pemain muda. Jika musim sebelumnya Nicky Butt dan Gary Neville sudah banyak mendapat kesempatan, kali ini Ferguson menambahnya dengan David Beckham, Paul Scholes, dan Phill Neville.

Tak pelak kebijakan ini dikritik habis-habisan salah satunya dari mantan bintang Liverpool, Alan Hansen. “Mereka tak akan juara dengan anak-anak” katanya.. Para pengkritik tampak tertawa puas ketika di pertandingan perdana MU kalak 1-3 di tangan tuan rumah Aston Villa. Awalnya mereka boleh tertawa, namun setelah itu kombinasi darah muda dan veteran membuat MU melaju dengan kemenangan demi kemenangan. Sayangnya di Piala UEFA mereka harus terhenti di putaran ke-dua oleh Rotor Volgograd. Yang menarik kendati tersingkir, MU masih menyimpan rekor tak terkalahkan di Old Trafford pada ajang Eropa. Peter Schemeichel menjadi pahlawan MU dengan mencetak gol lewat sundulan kepala di menit-menit akhir pertandingan. Ini menjadikan dirinya menjadi penjaga gawang kedua buat MU yang mencetak gol setelah Alex Stepney. Kekuatan MU semakin bertambah setelah hukuman Eric Cantona telah usai. Dia langsung memberi satu assist dan sebuah gol buat MU ketika harus bermain imbang 2-2 meng­hadapi Liverpool di Old Trafford. Selisih 11 poin dari pemimpin klasemen, Newcastle membuat MU menjadi underdog. Namun perlahan tapi pasti MU semakin mendekat. Gol-gol Eric Cantona dan sebagian menjadi penentu kemenangan membuat MU semakin mengurangi selisih poin tersebut. Yang menarik adalah ketika gol Eric Cantona menjadi penentu kemenangan atas Newcastle di St. James Park yang membuat MU berhasil mengambil alih posisi puncak klasemen. Bukan cuma di Liga, peforma MU di Piala FA juga menanjak. Mereka melewati Sunderland, Reading, Man.City, Southampton, dan Chelsea membuat MU lolos ke babak final Piala FA . Di Liga Primer, MU sempat kalah 1-3 oleh Southampton yang diklaim Ferguson bahwa seragam tim ketiga mengganggu pandangan sehingga mereka mengganti baju di babak kedua. Namun MU terus melaju hingga persaingan dengan Newcastle harus ditentukan di pertandingan terakhir.Perang urat syaraf dilancarkan Ferguson yang memancing kemarahan pelatih Newcastle, Kevin Keegan.

“Bagi pemain kami, MU adalah segalanya dan mereka berjuang untuk klub ini. Berbeda dengan mereka (Newcastle) yang berlabel bintang dan pantas berada di persaingan ini” kata Ferguson.

MU akhirnya berhasil memenangkan persaingan ini dengan kemenangan 3-0 atas Midllesbrough. Inilah gelar ke-10 MU di ajang Liga tertinggi Inggris. Suatu hal yang luar biasa ketika anak-anak muda mampu menjuarai Liga Primer. Ferguson belum puas karena di final Piala FA, mereka harus bertemu Liverpool. Lai-lagi gol tunggal pemain terbaik Liga Inggris, Eric Cantona membawa MU menang 1-0 di final. Cantona sebagai kapten menjadi pemain asing pertama yang mengangkat trophy Piala FA di panggung. Para fans pun bernyanyi

Gelar domestik musim 1995/1996 menjadi awal dari kesuksesan anak-anak muda MU. Ferguson sendiri kini mulai membidik gelar yang lebih besar, yaitu Liga Champions. Dengan adanya aturan Bosman, Ferguson kini mendapatkan kebebasan menurunkan pemain asingnya yang masih berada di Uni-Eropa. Karena itu dia memperkuat timnya dengan membeli beberapa pemain yang berpengalaman di Eropa. Bintang Euro 96, Karel Poborsky asal Republik Ceko dan Jordi Cryuff asal Belanda diboyongnya ke Old Trafford. Selain itu penjaga gawang veteran, Raimond van der Gouw asal Belanda dan 2 pemain asal Norwegia yaitu Ronny Johnsen di posisi belakang dan Ole Gunnar Solskjaer di posisi striker. Di awali dengan kemenangan 4-0 atas Newcastle di Charity Shield membawa MU menjadi klub yang sering meraih gelar tersebut. Karel Poborsky yang diprediksi akan mengisi posisi sayap kanan ternyata harus tersingkir dengan kecemerlangan David Beckham di posisi yang ditinggal Andrei Kanchelskis tersebut. Lewat gol spektakuler di partai pembuka ketika menghadapi Wimbledon di mana MU menang 3-0. Gol dari tengah lapangan itu membuat Ferguson tidak ada pilihan dengan memberinya tempat di posisi inti. Performa Beckham juga semakin menanjak di musim itu dengan gol dan umpan-umpan matangnya. Selain Beckham munculnya idola baru, Ole Gunnar Solskjaer membuat antusias permainan MU di musim ini. Sang pembunuh berwajah bayi ini menjadi top scorer MU di musim ini. Di Liga peforma MU juga sempat anjlok dengan kekalahan 3 kali berurut-turut ketika menghadapi Newcastle 0-5, Southampton 3-6, dan Chelsea 1-2. Namun setelah itu mereka bangkit dengan memperoleh kemenangan demi kemenangan hingga puncaknya ketika mereka mengalahkan Liverpoll di Anfield 1-3 di mana Gary Pallister memborong 2 gol dan 1 gol lain dicetak oleh Andy Cole. Di Liga Champions, berpeluang ke final, namun Borusia Dortmunt mematahkan ambisi Ferguson dengan dua kali mengalahkan MU di semifinal. MU memang gagal memenuhi ambisi menjadi juara Liga Champions, namun mereka berhasil mempertahankan gelar Liga Primer untuk memperoleh gelar ke-11 di ajang tersebut. Setelah memperoleh gelar, kabar mengejutkan datang ketika Eric Cantona memutuskan gantung sepatu dari sepakbola. The King bernomor punggung 7 itu menyatakan kehilangan gairah bermain kembali dan para fans pun merasa kehilangan.

Setelah kehilangan sang kapten Eric Cantona, Ferguson tidak mau lama-lama bersedih. Ban kapten diserahkan pada Roy Keane sementara dia sendiri merekrut Teddy Sheringham untuk mengisi posisi Cantona. Nomor punggung 10 yang sebelumnya digunakan Beckham diberikan pada Sheirngham sementara Beckham sendiri menggunakanan nomor punggung 7 warisan Cantona. Selain itu Ferguson juga merekrut Erik Nevland dari Norwegia dan Henning Berg dari Blackburn. MU memulai musim 1997/1998 dengan baik. Di Charity Shield MU menang adu penalti atas Chelsea setelah bermain imbang 1-1. Di Liga Primer pun MU langsung tancap gas dan meraih kemenangan-kemenanan gemilang. Andy Cole mulai terlihat produktif dengan mencatatkan gol demi gol buat MU. Tapi di Piala LIga, MU harus langsung kalah di babak ke-3 setelah kalah 0-2 menghadapi Ipswich Town. Di babak ke-5 Piala FA, MU juga tersingkir oleh Barnsley, tim yang mereka bantai 7-0 di Liga Primer. Petaka datang ketika Roy Keane harus absen hingga akhir musim ketika MU menghadapi Leeds United. Kendati demikian, MU tetap masih bermain baik di Liga Champions dengan mengungguli Juventus, Feyenoord, dan Košice membuat mereka lolos ke perempatfinal. Sudah unggul 11 poin dari Arsenal yang berada di peringkat 2, selisih poin MU menjadi menurun ketika mereka mengalami kekalahan demi kekalahan. Adalah faktor cederanya Ryan Giggs, Gary Pallister, dan Peter Schemeichel membuat peforma MU menjadi menurun. Krisis pemain tersebut membuat posisi mereka diserobot oleh Arsenal yang mengalahkan MU 0-1 lewat gol Marc Overmars. Keaadaan berimbas di perempatfinal Liga Champions, di mana MU disingkirkan oleh AS Monaco. MU akhirnya gagal merebut satu pun trophy di musm ini. Arsenal berhasil merebut dominasi MU di Liga Primer. Musim yang menjadi pelajaran buat Alex Ferguson.

Sumber gambar: www.dailymail.co.uk

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com