The Manchester United Way, Bukan Sekadar Klub Kesayangan

 Berita MUFCKemenangan Manchester United atas Tottenham Hotspur menumbuhkan eforia bagi seluruh pendukung tim Setan Merah, tak terkecuali pada saya. Cara United menahan gempuran tim tuan rumah dan aksi-aksi heroik David de Gea, mau tak mau membawa saya pada kenangan saat pertama kali meletakkan hati pada tim Manchester Merah ini.

PERHATIAN! Kami telah mendeteksi adanya pelanggaran pidana Hak Cipta berupa pemuatan artikel kami di situs lain tanpa penulisan sumber lengkap serta penerapan kaidah yang diperbolehkan    secara hukum. Setiap pelanggaran akan kami tuntut sesuai UU No 28 Tahun 2014 Pasal 113  tuntutan maksimal 10 tahun penjara dan/atau denda 4 miliar rupiah.

Anda mungkin terkejut, sebelum memutuskan menjadi fan Manchester United saya adalah seorang pendukung Liverpool. Karena memang laga Liga Inggris yang pertama kali saya tonton adalah Liverpool vs Wimbeldon. Waktu itu masih tahun 1980-an dan satu-satunya siaran tv yang bisa ditonton waktu itu adalah TVRI hehe….

Di era itu, Liverpool memang merajai Inggris. Mereka pun begitu ditakuti di Eropa. Dua pemain yang paling saya sukai adalah Bruce Grobbelar (kiper) dan John Barnes (pemain sayap yang masih muda tapi punya skill yahuud).

Namun kesukaan saya terhadap Liverpool luntur begitu saja saat menonton final Piala FA musim 1989-1990. Saat itu, ada sebuah klub kecil yang terlihat begitu ngotot dalam bermain. Pemain-pemainnya terlihat seperti siap “mati” di lapangan.

Saya sebut kecil, karena sebelum Alex Ferguson datang pada 1986, MU hanya sebuah tim yang finish di urutan 21. Setelah Fergie datang, ia langsung mencanangkan target: “Menggantikan dominasi Liverpool sebagai raja di Inggris mulai saat ini.” Hebat, kan?

Namun pada musim pertama Fergie, MU hanya mampu duduk di peringkat ke-11. Lalu musim berikutnya (1987) mereka berhasil duduk di peringkat ke-2, hanya kalah dari Liverpool yang menjadi juara (lagi). Musim berikutnya, MU kembali turun dan mengakhiri musim di peringkat 11.

Saya ingat, komentator tv menyebutkan betapa Fergie saat itu menghadapi ancaman pemecatan. Para fans menyuarakan Fergie Out. Namun manajemen MU kukuh mempertahankan Fergie. Hal ini pun dibayar oleh pria Skotlandia itu dengan membawa United melaju ke final Piala FA 1990 menghadapi Crystal Palace.

Setelah meraih imbang pada pertemuan pertama, Manchester United kembali menghadapi Palace di partai final ulangan. Di sinilah kejeniusan Fergie mulai terlihat. Saat itu MU punya kiper tangguh asal Skotandia bernama Jim Leighton. Namun di final itu, Fergie memilih memainkan kiper pinjaman bernama Les Sealey.

Keputusan itu berbuah manis. Sealey bermain kesetanan. Ia mati-matian melindungi gawangnya dengan luar biasa. Diserang sedemikian rupa, ia terlihat sangat percaya diri. Bahkan dalam keadaan cedera kaki, ia tak mau diganti. Semangatnya ini menular ke anggota tim lain. MU yang tidak diunggulkan, akhirnya menjadi juara setelah Lee Martin mencetak gol tunggal di laga itu. Itulah trofi pertama Ferguson di United, sekaligus yang menyelamatkan dirinya dari pemecatan. Bayangkan seandainya MU memecat Fergie saat itu. Mungkin sejarah klub itu akan berbeda…

Ketika ditanya tentang keputusannya memainkan Les Sealy di laga penting itu, Fergie berkata: “Apakah Les Sealey kiper yang lebih baik dari Jim Leighton? Tidak! Tapi Les Sealey mengira dirinya lebih baik dari Jim Leighton. Dan terkadang itu penting.”

“Les Sealey seorang yang sombong dan terkadang arogan. Jadi saya tak perlu khawatir dia akan bermain gugup di Wembley waktu itu,” ujar Fergie menjelaskan. Wow!

Melihat pemain-pemain seperti Les Sealy, Mark Hughes, Bryan Robson, Steve Bruce, Gary Pallister, Paul Ince, Danny Wallace, Mark Robin, Brian McClair, Neil Webb, Mike Phelan (yang sekarang jadi asisten OGS) berjuang mati-matian di lapangan di tahun-tahun selanjutnya membuat saya belajar tentang arti hidup. Bahwa dalam hidup, tak peduli Anda selemah apa, selama Anda mau berjuang maka Andalah juaranya!

Setiap kali Anda jatuh, maka segeralah bangun. Setiap kali jatuh lagi, maka bangunlah lagi. Begitulah yang diajarkan Manchester United kepada saya. Anda hanya kalah saat Anda berhenti berjuang.

Tak heran, dengan filosofi seperti itu Manchester United kemudian merajai sepakbola Inggris dan dunia dengan pemain-pemain seperti Peter Schmeichel, Eric Cantona, Ryan Giggs, David Beckham, Ole Gunnar Solskjaer, hingga Wayne Rooney. Mereka adalah pemain-pemain yang bergaya “Die Hard”. Susah matinye…

Ya, mereka memang sempat terlihat terpuruk saat Fergie pensiun. Namun perhatikan dengan saksama! DNA menolak untuk menyerah itu masih tersimpan di nadi pemain-pemain United. Mereka tetap saja rajin mencetak gol di menit-menit akhir laga (kita mengenalnya dengan istilah “Fergie Time”).

Dan aroma itu kembali menyeruak sejak Ole Gunnar Solskjaer, murid Fergie, mengambil alih kursi manajer. Berhasil membungkam Tottenham Hotspur di Wembley, di saat orang-orang meragukan United! Dan penampilan David de Gea semalam mirip sekali dengan penampilan Les Sealey di Wembley pada 1990.

Itulah yang saya cintai dari United. Itulah Manchester United Way! Itulah filosofi hidup yang saya pilih untuk dijalani…

Buat saya, Manchester United bukan hanya sekadar klub kesayangan. Manchester United adalah cara hidup. My way of life!

Share tulisan ini jika Anda setuju dengan saya. Biarkan orang lain tahu bahwa Anda juga seorang pengikut Manchester United Way.

Baca berita terbaru setiap hari, gabung dengan telegram kami di http://t.me/beritamufc

Baca juga berita seru terbaru Manchester United lainnya di beritamufc.com

Arisatya Yogaswara (founder and owner BeritaMUFC.com)

Sumber Gambar:  https://scroll.in

Share

Leave a Reply

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com